Selasa, 29 Mei 2012

12-Fadhlul Islam - Keutamaan Islam bagian 12: Bab tentang Keterasingan Islam dan Keutamaan Ghuraba’

BAB TENTANG KETERASINGAN ISLAM DAN KEUTAMAAN ORANG-ORANG YANG ASING


Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kalian orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang pengrusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.” (QS.Hud:116).

Dan dari Abu Huroiroh radhiyallahu‘anhu secara marfu’: “Sesungguhnya Islam itu mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana ketika mulai pertama kali. Maka berbahagialah Al-Ghuroba.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad dari hadits Ibnu Mas’ud dan di dalamnya (ada lafadz), “Siapakah Al-Ghuroba itu?” Beliau menjawab: “Orang-orang asing di antara kabilah-kabilah.”

Dan dalam satu riwayat lain: “Ghuroba adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan ketika manusia rusak.”

Dan bagi At-Tirmidzi (ada riwayat) dari hadits Katsir bin ‘Abdillah dari bapaknya,dari kakeknya: “Berbahagialah ghuroba, yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan sunnahku yang dirusak manusia.”

Dan dari Abu Umayyah dia berkata, “Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah, aku katakan padanya, “Wahai Abu Tsa’labah apa yang engkau katakan tentang ayatini: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian; tidaklah orang yang sesat itu akan memberi mudhorot kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.”” (QS.Al-Maidah:105). Maka dia (Abu Tsa’labah) menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang tahu. Aku pernah menanyakannya kepada Rosulullah shallallahu‘alaihi wa sallam: “Bahkan perintahkanlah kalian kepada yang ma’ruf dan laranglah dari yang mungkar, hingga kalian melihat sifat kikir ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia diutamakan, dan setiap orang merasa bangga dengan pendapatnya. Maka wajib atasmu dengan kekhususan dirimu dan tinggalkanlah orang-orang awam. Sesungguhnya di belakang kalian akan ada hari-hari. Orang yang sabar di hari-hari itu seperti orang yang menggenggam bara api. Orang yang beramal di saat itu akan mendapatkan pahala semisal pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalan kalian.” Para shohabat bertanya: “Semisal pahala lima puluh orang dari kami atau darimereka?”  Rosulullah menjawab, “Bahkan semisal lima puluh kali dari kalian.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi.

Dan Ibnu Wadhoh meriwayatkan hadits yang semakna dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu‘anhu dengan lafadz: “Sesungguhnya sepeninggal kalian akan ada hari-hari dimana orang yang bersabar padanya adalah orang yang berpegang teguh dengan seperti apa yang kalian pegangi pada hari ini. Dia akan mendapat limapuluh kali pahala dari kalian.” Ada yang bertanya: “Ya Rosulullah, lima puluh kali pahala dari mereka?” Rosulullah menjawab, “Bahkan (lima puluh kal ipahala) dari kalian.”

Kemudian dia (Ibnu Wadhoh) berkata: Telah memberitahukan kepada kami Muhammad bin Sa’id, telah memberitahukan kepada kami Asad, telah berkata Sufyan bin ‘Uyainah, dari Aslam Al-Bashri, dari Sa’id saudaranya Al-Hasan dia memarfu’kannya, aku katakan kepada Sufyan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Dia berkata, “Ya.”Beliau bersabda:. “Sesungguhnya kalian pada hari ini di atas bayyinah (ilmu) dari Robb kalian, kalian beramar ma’ruf nahi mungkar, dan kalian berjihad di jalan Allah, dan belum nampak pada kalian dua kemabukan yaitu mabuk kebodohan dan cinta dunia. Kemudian kalian akan berubah dari hal itu. Sehingga kalian tidak lagi beramar ma’ruf nahi mungkar, kalian tidak berjihad di jalan Allah, dan nampak pada kalian dua kemabukan. Maka pada hari itu orang yang berpegang teguh dengan al-kitab dan as-sunnah dia akan mendapat pahala lima puluh orang.” Ada yang bertanya, “Pahala lima puluh orang dari mereka?” Rosulullah menjawab, “Tidak bahkan dari kalian.”

Dan baginya dengan sebuah sanad dari Al-Mu’afiri, dia berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berbahagialah al-ghuroba yaitu orang-orang yang berpegang teguh dengan kitabullah ketika (kitabullah itu) ditinggalkan, dan mereka mengamalkan sunnah ketika (sunnah itu) telah mati.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca artikel kami. Besar harapan kami untuk bisa membaca komentar para pengunjung. Dan berkomentar lah dengan nama (jangan anonim), dan jika berkenan isikan email/website anda supaya saya bisa mengunjungi balik anda semua. terima kasih.

Pembelaan

Download Audio dan Video Menyingkap Hakikat Wahabi oleh Ustad Dzulqarnain Muhammad Sunusi

Kajian Ilmiah MENYINGKAP HAKIKAT WAHABI PEMATERI: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi [Pengasuh Pesantren As-Sunnah Makassar] WAKTU:...